Perum Jasa Tirta (PJT) II memperkirakan sekitar 1,95 miliar meter kubik air harus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan irigasi hingga akhir Desember 2026 dari Waduk Jatiluhur. Angka tersebut menjadi salah satu komponen terbesar dalam perhitungan neraca air Waduk Jatiluhur. Meski Tinggi Muka Air (TMA) mulai berada di bawah batas operasi normal bawah, PJT II memastikan ketersediaan air masih dalam kondisi terkendali.
General Manager Wilayah IV PJT II, Anom Soal Herudjito, mengatakan, kebutuhan air untuk irigasi hingga akhir tahun telah masuk dalam perhitungan pengelolaan waduk. “Hingga 31 Desember 2026 mendatang kami masih punya air 3,6 miliar meter kubik. Dari total potensi ketersediaan air tersebut, kebutuhan sektor irigasi diperkirakan mencapai 1,95 miliar meter kubik,” kata Anom di Waduk Jatiluhur, belum lama ini.
Artinya, kata Anom, pasokan air Waduk Jatiluhur harus dikelola secara cermat agar kebutuhan pertanian tetap terpenuhi selama periode musim kering. Selain irigasi, air waduk juga dialokasikan untuk kebutuhan PDAM dan industri yang diperkirakan mencapai sekitar 708 juta meter kubik hingga akhir 2026. “Dengan memperhitungkan kebutuhan tersebut, neraca air Waduk Jatiluhur masih menunjukkan kondisi positif. Sehingga balancing-nya masih surplus 976 juta meter kubik dan ini menjadi salah satu dasar bagi PJT II dalam menentukan pola pengeluaran air selama beberapa bulan ke depan,” ujarnya.
Baca Juga:Tempat Wisata Alam Legonkulon Subang yang Menawarkan Pesona Pantai dan MangroveWarung Kopi Purnama Jejak Rasa Bandung yang Bertahan Hampir Satu Abad
Saat ini, sambungnya, TMA Waduk Jatiluhur berada di level 96,33 meter. Posisi tersebut sekitar 0,6 meter di bawah batas operasi normal bawah. Akan tetapi, level tersebut masih cukup jauh dari batas bawah operasi waduk yang berada di 87,5 meter. “Dari posisi sekarang masih ada cadangan kita 11 meter ke bawah. Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan TMA belum serta-merta membuat pasokan air untuk berbagai kebutuhan berada dalam kondisi darurat,” ucapnya.
Terlebih, kata dia, PJT II memiliki cadangan yang terbentuk sejak awal tahun ketika posisi air Waduk Jatiluhur masih tinggi, di mana, kondisi TMA yang tinggi pada 1 Januari 2026 menjadi keuntungan bagi pengelolaan air tahun ini. “Air yang tersimpan sejak awal tahun kemudian dapat dimanfaatkan untuk menghadapi musim kering, termasuk menjaga pasokan bagi sektor pertanian. Jadi kita masih punya tabungan yang kita manfaatkan untuk musim kering ini,” katanya.
