Warung Kopi Purnama Jejak Rasa Bandung yang Bertahan Hampir Satu Abad

Warung Kopi Purnama Jejak Rasa Bandung yang Bertahan Hampir Satu Abad
Di antara deretan kafe kekinian yang terus bermunculan di Bandung, ada satu nama yang tetap setia pada jati dirinya sejak lebih dari sembilan dekade lalu: Warung Kopi Purnama. Kedai yang berdiri di Jalan Alkateri No. 22, kawasan Braga, ini bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan potongan sejarah kota yang masih hidup hingga kini.
0 Komentar

Di antara deretan kafe kekinian yang terus bermunculan di Bandung, ada satu nama yang tetap setia pada jati dirinya sejak lebih dari sembilan dekade lalu: Warung Kopi Purnama. Kedai yang berdiri di Jalan Alkateri No. 22, kawasan Braga, ini bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan potongan sejarah kota yang masih hidup hingga kini.

Racikan kopi dan suasana bangunannya nyaris tak tergerus zaman, meski sudah berpindah tangan hingga empat generasi.

Sejarah Singkat

Cikal bakal Warung Kopi Purnama bermula dari tangan seorang perantau asal Medan bermarga Tionghoa, Jong A Tong, yang membuka usaha ini pada awal abad ke-20 dengan nama “Chang Chong Se”. Memasuki era 1960-an, seiring perubahan kebijakan pada masa itu, nama kedai pun diganti menjadi Warung Kopi Purnama seperti yang dikenal sekarang. Kini, usaha turun-temurun ini telah dipegang oleh generasi keempat, yang tetap berkomitmen menjaga resep dan nuansa aslinya tanpa banyak perubahan.

Lokasi dan Jam Operasional

Baca Juga:Resep Bakwan Renyah dan Gurih, Camilan Favorit yang Selalu Bikin NagihBMM Salurkan 14 Ribu Liter Air Bersih bagi Warga Terdampak Kekeringan di Jawa Barat

Kedai ini berada di Jalan Alkateri No. 22, kawasan Sumurbandung, Kota Bandung, Jawa Barat, tak jauh dari pusat kawasan heritage Braga. Warung Kopi Purnama buka setiap hari, mulai pukul 06.30 hingga 22.00 WIB, sehingga bisa jadi pilihan sarapan pagi maupun tempat bersantai di sore hari.

Suasana dan Pilihan Menu

Begitu melangkah masuk, pengunjung akan disambut nuansa klasik ala rumah kolonial Belanda — mulai dari meja-meja kayu tua hingga daftar menu yang masih ditulis tangan. Soal minuman, kedai ini tidak menawarkan banyak varian; hanya ada empat pilihan kopi, dua di antaranya (kopi hitam dan kopi susu) bisa disajikan panas maupun dingin, ditambah satu varian kopi float versi dingin. Meski terbatas, cita rasanya tetap jadi daya tarik utama karena kedai ini konsisten memakai biji kopi dari Kopi Aroma — produsen kopi ternama di Bandung yang dikenal lewat proses penyimpanan biji selama bertahun-tahun sebelum disangrai. Hasilnya, kopi di sini punya karakter rasa yang kuat dengan tingkat keasaman yang cukup tinggi.

Selain kopi, pengunjung juga bisa mencicipi beragam hidangan khas peranakan, seperti roti panggang selai kaya, bacang, hingga lontong cap gomeh — pelengkap yang membuat pengalaman bersantap di sini makin lengkap.

0 Komentar