Kebakaran yang terjadi di kawasan Gunung Gede meninggalkan pekerjaan besar yang harus segera dibenahi. Selama berhari-hari, ratusan warga harus turun tangan untuk berjuang memadamkan kobaran api.
Bagi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kejadian ini tidak sekadar berkaitan dengan upaya memadamkan api. Kebakaran tersebut menjadi peringatan penting agar pengelolaan kawasan pegunungan dapat diperbaiki secara menyeluruh.
Dedi kemudian mendatangi kawasan kaki Gunung Gede Pangrango untuk bertemu dengan masyarakat yang turut terlibat dalam penanganan kebakaran. Tercatat sebanyak 484 orang ikut ambil bagian dalam proses pemadaman dan penanganan api.
Baca Juga:Tempat Wisata Alam Legonkulon Subang yang Menawarkan Pesona Pantai dan MangroveWarung Kopi Purnama Jejak Rasa Bandung yang Bertahan Hampir Satu Abad
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memberikan uang lelah kepada warga sesuai dengan durasi keterlibatan mereka dalam menangani kebakaran. Besaran yang diberikan mencapai Rp600.000 untuk setiap hari keterlibatan.
Artinya, warga yang ikut bekerja selama lima hari akan memperoleh Rp3 juta. Sedangkan mereka yang terlibat selama 10 hari mendapatkan Rp6 juta.
Menurut Dedi, pemberian tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan nominal uang. Pemerintah ingin memberikan penghargaan atas pengorbanan warga yang rela meninggalkan pekerjaan serta kehilangan penghasilan demi membantu menjaga kawasan Gunung Gede.
“Ini bukan urusan uangnya. Ini urusan negara hadir dan menghormati pengorbanan masyarakat,” kata Dedi.
Api Berhasil Dipadamkan, Namun Masalah Gunung Masih Berlanjut
Proses penanganan kebakaran memakan waktu lebih dari dua minggu. Dalam menjalankan tugas tersebut, warga harus menempuh perjalanan selama berjam-jam menuju lokasi kebakaran dengan dukungan peralatan yang masih terbatas.
Pada tahap awal penanganan, sejumlah warga bahkan menggunakan peralatan sederhana untuk memukul api sekaligus mencegah kobaran meluas. Kondisi semakin sulit karena akses menuju sumber air tidak mudah dijangkau.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Dedi menilai kawasan pegunungan membutuhkan infrastruktur khusus untuk menghadapi potensi kebakaran.
Baca Juga:Persib Bandung Ditantang Manila Digger di ACL 2, 3 Pemain Ini Bisa Jadi Mimpi Buruk Maung BandungHuawei Pura X Max Resmi Dirilis, HP Lipat 7,7 Inci Pesaing iPhone Fold
Ia mengusulkan agar peralatan pemadam disimpan di sejumlah lokasi yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi. Selain itu, jalur pompa serta titik sumber air untuk kondisi darurat juga perlu tersedia sehingga warga tidak perlu berulang kali naik dan turun gunung hanya untuk mengambil peralatan.
“Ke depan tidak boleh turun bolak-balik. Di daerah yang memiliki potensi kebakaran harus ada tempat penyimpanan barang yang bisa digunakan ketika terjadi kebakaran,” ujarnya.
