Musim kemarau yang mulai terasa di sejumlah wilayah Jawa Barat membuat persoalan ketersediaan air bersih kembali menjadi perhatian. Di tengah kondisi tersebut, Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Gerindra, Andhika Surya Gumilar, meminta pemerintah memperkuat langkah antisipasi agar kekeringan tidak berkembang menjadi krisis air yang semakin membebani masyarakat.
Menurut Andhika, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang menyangkut langsung kehidupan masyarakat. Karena itu, pemerintah tidak boleh menunggu sampai warga benar-benar kesulitan mendapatkan air baru kemudian turun melakukan penanganan.
“Antisipasi harus dilakukan sejak awal. Jangan sampai pemerintah baru bergerak ketika masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Andhika saat diwawancarai pada (19/8/2026).
Baca Juga:Hadapi Musim Kemarau, Albert Anggara Dorong Pembangunan Embung di Pantura SubangCara Membuat Akta Kematian di Subang Syarat, Prosedur, dan Biayanya
Ia menilai pemetaan wilayah rawan kekeringan menjadi langkah penting yang harus segera dilakukan. Pemerintah daerah perlu memiliki data yang jelas mengenai desa atau kawasan yang setiap tahun mengalami kekurangan air, termasuk jumlah warga yang berpotensi terdampak.
Dengan data tersebut, kata Andhika, distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Penyaluran air menggunakan mobil tangki memang diperlukan sebagai langkah darurat, tetapi tidak boleh menjadi solusi satu-satunya.
“Dropping air penting untuk kondisi darurat, tetapi jangan berhenti di situ. Kita harus memikirkan solusi yang lebih permanen, seperti sumur bor, embung, penampungan air dan penguatan jaringan distribusi air,” katanya.
Andhika juga mendorong pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk memperkuat koordinasi dengan BPBD, dinas terkait, PDAM, pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa. Menurutnya, penanganan kekeringan membutuhkan kerja bersama karena persoalan air tidak mengenal batas wilayah administrasi.
Selain berdampak terhadap kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga berpotensi menekan sektor pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat. Berkurangnya debit sumber air dapat membuat petani kesulitan memenuhi kebutuhan pengairan lahan, sementara masyarakat yang mengandalkan sumber air tertentu juga harus mencari alternatif lain.
“Dampak kekeringan bukan hanya soal air untuk minum. Ada pertanian, peternakan dan aktivitas ekonomi masyarakat yang ikut terdampak. Karena itu, antisipasinya harus menyeluruh,” ungkap Andhika.
