Dampak Kemarau Ekstrem, Volume Air Situ Cigangsa Menyusut Drastis

Dampak Kemarau Ekstrem, Volume Air Situ Cigangsa Menyusut Drastis
-Musim kemarau yang berkepanjangan sejak bulan Mei lalu mulai memberikan dampak nyata bagi ekosistem perairan di wilayah Purwakarta. Situ Cigangsa yang biasanya menjadi tumpuan irigasi dan sumber serapan air bersih bagi ribuan warga, kini mengalami penyusutan volume air yang signifikan.
0 Komentar

Musim kemarau yang berkepanjangan sejak bulan Mei lalu mulai memberikan dampak nyata bagi ekosistem perairan di wilayah Purwakarta. Situ Cigangsa yang biasanya menjadi tumpuan irigasi dan sumber serapan air bersih bagi ribuan warga, kini mengalami penyusutan volume air yang signifikan.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada 14 Oktober 2026 permukaan air situ terlihat surut hingga dari batas normal. Area tepian yang biasanya terendam air kini berubah menjadi lahan lumpur retak-retak, dengan beberapa titik bahkan menampakkan dasar danau yang selama ini tidak pernah terlihat. “Air nya turun cepat sekali, Pak. Biasanya sampai bulan Agustus masih penuh, tapi sekarang sudah tinggal separuh,” ujar Dasim salah seorang petani yang menggantungkan hidup pada aliran air dari situ tersebut.

Ia mengaku mulai kesulitan mengairi sawahnya dan terpaksa beralih ke pompa air tanah yang biayanya lebih mahal. Penyebab surutnya danau di Purwakarta tersebut diketahui karena minimnga curah hujan, lalu tingginya penguapan. Suhu udara yang tidak normal mempercepat laju evaporasi permukaan air.

Baca Juga:Tempat Wisata di Binong Subang, Ada Situs Bersejarah IniTiga Desa Terdampak Kawasan Industri, Penyerapan Tenaga Kerja Lokal di Subang Dipertanyakan

Kemudian, sedimentasi atau pendangkalan akibat erosi hilir membuat kapasitas tampung situ berkurang drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Kapasitas efektif situ saat ini hanya tersisa satu meter dari total kapasitas desain. Kami sudah melakukan normalisasi darurat di beberapa titik inlet, namun tanpa hujan, upaya teknis saja tidak cukup,” jelas Kepala Desa Campakasari Adji Darmaji menjelaskan saat ditemui di lokasi.

Dampak berantai penyusutan air bagi msyarakat bukan hanya soal estetika tetapi ancaman serius bagi ketahanan pangan dan kesehatan. Irigasi terancam ribuan hektare, lahan pertanian berisiko gagal panen jika kemarau berlanjut hingga bulan masa tanam. “Ada beberapa dusun yang mengandalkan mata air dari resapan dari situ mulai mengalami kekeringan sumur warga,” ujarnya.

Warga dihimbau untuk bijak menggunakan air dan ikut menjaga kebersihan situ agar sedimentasi tidak semakin parah. “Ini ujian bersama. Kita harus adaptif, tapi juga harus memperbaiki tata kelola air kita agar tidak selalu ‘kaget’ setiap kemarau datang. Semoga hujan segera turun,” pungkasnya.

0 Komentar