Di Balik Air Mata Sarah Alzena, Ada Perjuangan Meraih Juara 3 Pasanggiri Jaipong

Di Balik Air Mata Sarah Alzena, Ada Perjuangan Meraih Juara 3 Pasanggiri Jaipong
Rasa gugup, panik, hingga air mata mewarnai penampilan perdana Sarah Alzena Purwaci (10) dalam ajang Pasanggiri Jaipong. Akan tetapi, siapa sangka keberanian siswi kelas IV sekolah dasar itu untuk tetap melangkah ke atas panggung justru membuahkan hasil membanggakan. Sarah berhasil meraih Juara III dalam lomba Pasanggiri Jaipong kategori Sekolah Dasar (SD) kelas IV hingga VI yang digelar Grafity Event Organizer di Toserba Yogya Purwakarta, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Nagri Tengah, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Minggu (13/9/2026).
0 Komentar

Rasa gugup, panik, hingga air mata mewarnai penampilan perdana Sarah Alzena Purwaci (10) dalam ajang Pasanggiri Jaipong. Akan tetapi, siapa sangka keberanian siswi kelas IV sekolah dasar itu untuk tetap melangkah ke atas panggung justru membuahkan hasil membanggakan.

Sarah berhasil meraih Juara III dalam lomba Pasanggiri Jaipong kategori Sekolah Dasar (SD) kelas IV hingga VI yang digelar Grafity Event Organizer di Toserba Yogya Purwakarta, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Nagri Tengah, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Minggu (13/9/2026).

Bagi Sarah, ajang tersebut bukan sekadar perlombaan. Itu merupakan pengalaman pertamanya tampil dan menari di hadapan banyak orang. Dalam perlombaan tersebut, Sarah membawakan tarian Jaipong dengan iringan lagu Sancang Gugat. Dengan balutan busana tari dan gerakan yang penuh semangat, Sarah berusaha memberikan penampilan terbaiknya di hadapan para juri dan penonton.

Baca Juga:Sejarah Binong Kabupaten Subang, Ada Kisah Sederhana di Balik NamanyaLoker SUAI Subang untuk Semua Jurusan, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Sesaat sebelum tampil, rasa percaya diri Sarah sempat goyah. Melihat banyaknya penonton yang hadir membuat dirinya dilanda rasa panik dan gugup. Sarah mengaku, pengalaman pertama tampil di hadapan banyak orang menjadi tantangan tersendiri.

Meski sempat merasa takut, ia mencoba menguatkan diri dengan mengingat pesan yang selalu diberikan oleh guru Sanggar Tari Putri Ayesha, Vera, serta sang ibu yang tak henti memberikan dukungan dan semangat. “Saya baru pertama kali tampil. Sempat panik karena dilihat banyak orang dan banyak penonton. Tapi saya mencoba untuk percaya diri. Saya ingat pesan dari guru Sanggar Tari Putri Ayesha, Ibu Vera, dan mamah yang selalu mengingatkan dan memberikan semangat kepada saya,” kata Sarah polos.

Keberanian itu akhirnya membawa Sarah menyelesaikan tariannya. Namun, perjuangan emosionalnya ternyata belum berakhir. Sesaat setelah musik berhenti dan penampilannya selesai, Sarah justru merasakan sesuatu yang sulit ia ungkapkan. Rasa tegang yang selama ini dipendam seakan pecah begitu saja. Air matanya pun perlahan jatuh.

Sarah mengaku tidak mengetahui secara pasti mengapa dirinya tiba-tiba merasa sedih dan terharu setelah menyelesaikan tarian. Tubuhnya bahkan sempat gemetar hingga sulit untuk berbicara. “Entah kenapa setelah selesai menari, tiba-tiba saya merasa sedih sampai keluar air mata. Pokoknya saat itu saya sampai tidak bisa bicara dan gemetar,” ujar Sarah.

0 Komentar