Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan semua pihak. Berangkat dari semangat kepedulian terhadap lingkungan, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) STAI Al-Falah Cicalengka Bandung bersama Pemerintah Desa Kasomalang Wetan meluncurkan Program PELITA (Peduli Lingkungan dan Tata Sampah).
Salah satu bentuk nyata dari program tersebut adalah pembangunan prototipe Waste Station atau Titik Pilah Sampah yang dibuat dengan konsep unik dan edukatif. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat membantu masyarakat mulai membiasakan diri memilah sampah sejak dari sumbernya, sekaligus berkontribusi dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan.
Program tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara mahasiswa KKM dan Pemerintah Desa Kasomalang Wetan dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Baca Juga:Jadwal Pelayanan SKCK di Polres Subang, Ini Cara Buat dan SyaratnyaSekcam Subang Ida Erlinda Benahi Disiplin ASN, Gagas Kampung Budaya dan Wisata
Sekretaris Desa Kasomalang Wetan, Zeinal Mupti yang juga menjadi pembimbing mahasiswa KKM dari pihak desa, menyampaikan bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, diperlukan kesadaran dan kebiasaan bersama dari masyarakat untuk mulai mengelola sampah dengan lebih baik.
“Program PELITA ini merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Kami berharap kehadiran Waste Station ini bukan hanya menjadi tempat membuang sampah, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami pentingnya memilah dan mengelola sampah,” ujarnya kepada Pasundan Ekspres, Selasa (25/8/2026).
KKM STAI Al-Falah Cicalengka Yang Turut Memberikan Gagasan Ia mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKM STAI Al-Falah Cicalengka yang turut memberikan gagasan dan aksi nyata di tengah masyarakat. Menurut Zeinal, mahasiswa tidak hanya hadir menjalankan kegiatan akademik, tetapi juga dapat memberikan kontribusi melalui program yang menyentuh persoalan lingkungan.
Keunikan desain Waste Station diharapkan mampu menarik perhatian masyarakat, khususnya generasi muda dan anak-anak. Dengan begitu, edukasi tentang sampah dapat dilakukan dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami.
Zeinal berharap prototipe tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik di Desa Kasomalang Wetan. Namun, ia menegaskan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh keberadaan fasilitas, melainkan juga oleh konsistensi masyarakat dalam menggunakannya.
