Sementara itu, Tatang dari PT Syngenta Indonesia menjelaskan potensi produksi jagung tebon dalam satu hektare lahan dapat mencapai sekitar 50 hingga 60 ton, tergantung pada teknik budidaya dan kondisi lahan. PT Syngenta, kata dia, juga siap memberikan pendampingan kepada petani agar proses budidaya dapat dilakukan secara optimal.
“Potensi panen tebon berkisar 50 sampai 60 ton per hektare. Kami dari Syngenta siap mendampingi petani dalam budidaya tebon agar tingkat keberhasilan petani lebih besar,” jelas Tatang.
Pendampingan tersebut dinilai penting karena kualitas dan kuantitas hasil panen menjadi faktor utama untuk memenuhi kebutuhan industri peternakan sapi perah.
Baca Juga:Korban Begal di Jalur Tebu Purwadadi Subang Meninggal Dunia, Polisi Lakukan Olah TKP dan Kejar PelakuTKD Dipangkas Rp350 Miliar, Bupati Subang Prioritaskan Pilkades dan PBI di Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026
Sementara itu, Kepala Bidang PUEM Kabupaten Subang, Lita menekankan pentingnya peran BUMDes dalam mengajak sekaligus memobilisasi masyarakat untuk terlibat dalam program tersebut.
Menurutnya, BUMDes memiliki posisi strategis sebagai penggerak ekonomi di tingkat desa. Ketika BUMDes mampu menghubungkan potensi masyarakat dengan kebutuhan pasar, maka aktivitas ekonomi desa dapat berkembang lebih luas.
“Peran BUMDes sangat penting untuk mengajak dan memobilisasi masyarakat desa. Kalau potensi yang ada bisa digerakkan bersama, tentu akan memberikan dampak terhadap peningkatan perekonomian desa,” ujarnya.
Program budidaya jagung ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seminar, tetapi berlanjut menjadi gerakan ekonomi berbasis desa. Dengan dukungan BUMDes, petani, perusahaan off-taker, pemerintah, serta penyedia benih dan pendampingan, jagung tebon diharapkan mampu menjadi salah satu komoditas potensial baru di Kabupaten Subang.
Selain mendukung kebutuhan pakan sapi perah, program tersebut juga menjadi upaya mengoptimalkan lahan desa agar menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat keterhubungan antara sektor pertanian, peternakan, dan ekonomi desa.
(DEA NURFAHLA/PKL SMK NEGERI KASOMALANG)
