Ia mengatakan, sinergi antara TNI, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, Tagana dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menghadapi berbagai dampak musim kemarau.
Terlebih, air merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda.
Bantuan 5.000 liter air bersih itu memang belum menjadi jawaban untuk seluruh persoalan kekeringan. Namun bagi 60 kepala keluarga di Kampung Cigintung, setidaknya ada sedikit ruang untuk bernapas di tengah kemarau yang panjang.
Dari satu titik distribusi, air mengalir ke rumah-rumah warga. Dari kepedulian seorang Babinsa, lahir koordinasi yang melibatkan banyak pihak. Dan di tengah musim kemarau, kepedulian seperti itulah yang membuat air bukan hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga menjadi simbol gotong royong.
(HABIBAH SYAFARI/PKL SMK NEGERI KASOMALANG)
