Dengan demikian, aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu memiliki kaitan erat dengan sistem panas bumi di Ciater.
Apakah Air Panas Ciater Berasal dari Magma?
Pertanyaan ini juga menarik. Apakah air yang digunakan untuk berendam merupakan magma yang berubah menjadi air?
Bukan.
Air panas Ciater bukanlah magma yang berubah menjadi air. Panasnya berasal dari sistem panas bumi di bawah permukaan, sedangkan fluida yang bersirkulasi dalam sistem tersebut terutama berasal dari air meteorik.
Baca Juga:Nyaris Terbakar, Gunung Gede Jadi Sorotan Dedi Mulyadi soal Komersialisasi dan Tata Kelola PendakianLestarikan Bahasa Sunda, 486 Siswa Ikuti FTBI Kabupaten Subang
Menurut kajian sistem panas bumi Ciater yang tersedia di Digital Library ITB, fluida hidrotermal dominan berasal dari air meteorik lokal dan mendapat pengaruh dari gas magmatik Tangkuban Parahu. Sistem tersebut juga diperkirakan memiliki temperatur reservoir sekitar 170 ± 10 derajat Celsius di bawah permukaan.
Angka tersebut tentu berbeda dengan suhu air yang dirasakan wisatawan di permukaan karena air telah mengalami proses perjalanan, pencampuran, serta pelepasan panas sebelum muncul sebagai mata air.
Kenapa Suhu Air Ciater Tidak Sama dengan Suhu di Dalam Bumi?
Air panas yang muncul di permukaan tidak memiliki suhu yang sama dengan sumber panas di bawah tanah. Ketika fluida panas bergerak dari kedalaman menuju permukaan, terjadi berbagai proses. Salah satunya adalah pencampuran dengan air yang lebih dingin dan pelepasan panas selama perjalanan.
Akibatnya, suhu air yang keluar sebagai mata air panas jauh lebih rendah dibandingkan temperatur reservoir di bawah permukaan. Beberapa sumber ilmiah mencatat suhu mata air panas Ciater berada pada kisaran sekitar 40–43 derajat Celsius, meskipun angka tersebut dapat berbeda berdasarkan lokasi dan titik pengukuran.
Data yang dikutip dalam penelitian di Digital Library ITB mencatat dua mata air panas di Desa Ciater dengan suhu sekitar 40,8°C dan 42,8°C.
Mengapa Air Panas Ciater Mengandung Mineral?
Selain suhunya, air panas Ciater juga memiliki karakteristik kimia yang berbeda dibandingkan air biasa. Ketika air bergerak melalui lapisan batuan di bawah permukaan, air dapat berinteraksi dengan mineral dan batuan yang dilewatinya. Proses tersebut menyebabkan sejumlah unsur dan mineral terlarut ke dalam air.
