Progres Pabrik BYD di Subang, Kapan Produksi Massal Dimulai?

Progres Pabrik BYD di Subang
PT BYD Motor Indonesia membeberkan perkembangan proses pembangunan pabrik mereka yang terletak di Subang. Perusahaan mengungkapkan proyeksi operasional fasilitas tersebut tetap berjalan sesuai jadwal.
0 Komentar

REALITA KITA – PT BYD Motor Indonesia membeberkan perkembangan proses pembangunan pabrik mereka yang terletak di Subang. Perusahaan mengungkapkan proyeksi operasional fasilitas tersebut tetap berjalan sesuai jadwal.

Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia berujar selain tengah melengkapi segala aspek administratif dan teknis, pihaknya dikatakan telah mengantongi sertifikat penting.

“Sertifikat standar, kemudian WMI (World Manufacturer Identifier) itu untuk tanda pengenal dari NIK kendaraan dan ada sertifikasi IKD (Incompletely Knocked Down),” buka Luther ditemui di Kemayoran, Jakarta (5/2/2026).

Baca Juga:Polres Subang Ungkap Kasus Love Scamming, Korban Rugi Hingga Rp250 JutaPemulihan Pertanian dan Infrastruktur Perlu Jadi Fokus Utama Pasca Banjir Pantura Subang

WMI atau kemungkinan yang dimaksud World Manufacturer Identifier adalah barisan tiga digit pertama dari 17 karakter nomor identifikasi kendaraan atau umum disebut VIN (Vehicle Identification Number) alias nomor rangka.

Sementara IKD yang ditengarai merujuk pada istilah Incompletely Knocked Down merupakan salah satu metode atau jenis perakitan komponen menjadi kendaraan utuh, bersanding dengan Completely Knocked Down (CKD) atau Semi Knocked Down (SKD).

“Artinya, fasilitas ini sudah sangat siap untuk memproduksi kendaraan secara nasional. Namun, dalam proses penyelesaian manufaktur itu ada proses lainnya menuju mass production,” terang Luther lagi.

Sebelumnya pernah dijelaskan, calon kompleks manufaktur BYD itu nantinya memiliki kapasitas produksi maksimal 150 ribu unit per tahun dan ditargetkan memulai aktivitasnya pada kuartal pertama tahun ini.

“Pada saat ini kita belum bisa menentukan (target produksi). Namun, secara idealnya kami pasti akan fokus pada produk-produk yang secara volume itu mampu menyerap volume yang cukup tinggi,” papar Luther.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sebanyak lebih dari 55 ribu unit BYD dan termasuk Denza telah terjual secara wholesales (distribusi dari pabrik ke diler) sepanjang 17 bulan, dari Juni 2024 hingga Desember 2025.

Penjualan BYD di Indonesia ditopang oleh kebijakan insentif impor BEV dengan komitmen investasi, sesuai Peraturan Menteri Investasi Nomor 1 Tahun 2024, meliputi bebas bea masuk dan gratis PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah).

Baca Juga:10 Tahun Bela Persib Bandung, Febri Hariyadi Dipinjamkan ke Persis Solo Demi Menit BermainPemkab Bandung Barat Fokus Penangan Pemulihan Pasca Longsor di Pasirlangu

Oleh karena itu, BYD bisa mengimpor ribuan unit tanpa ragu harga akan melambung tinggi. Dalam periode 22 bulan, PT BYD Motor Indonesia melakukan importasi sebanyak 68.220 unit mobil listrik dari China.

0 Komentar