Yang akan paling mengganggu pasar bukanlah arus perdagangan, melainkan penggunaan modal sebagai senjata.
Kondisi ini membuat investor berkeyakinan akan terjadinya perang dagang, jika AS tetap bersikukuh untuk menekan negara-negara Uni Eropa menyetujui keinginan Trump membeli Greenland.
Konsumsi rumah tangga jadi penopang ekonomi RI
Di sisi lain, Ibrahim memandang konsumsi rumah tangga kini masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional, dengan didominasi oleh kelas menengah.
Baca Juga:Seorang Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang TawangmanguPresiden Prabowo Bertolak ke Inggris dan Swiss, Perkuat Kemitraan Strategis dan Diplomasi Ekonomi Global
“Namun, kelas menengah di Indonesia mengalami kondisi tertekan dan bergerak menuju ke kelompok rentan,” sebut dia.
Oleh karena itu, ia menganggap perlunya stimulus yang lebih banyak diberikan kepada kelas menengah untuk menjaga kondisi daya belinya.
Sebab, kelas menengah merupakan kelompok yang terhimpit di tengah kondisi gejolak perekonomian, padahal merupakan pondasi pertumbuhan ekonomi.
Stimulus ekonomi pemerintah diketahui kerap kali lebih banyak digelontorkan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah atau kelompok miskin. Diantaranya seperti bantuan sosial (bansos), program keluarga harapan (PKH), dan bantuan langsung tunai (BLT).
Sementara untuk kalangan menengah, baru-baru ini ditetapkan pemerintah insentif pajak penghasilan (PPh) 21 bagi pekerja di sektor padat karya dan pariwisata dengan penghasilan di bawah Rp10 juta per bulan.
“Namun, stimulus itu baru diberlakukan bagi lima sektor, yakni industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta sektor pariwisata,” jelas Ibrahim.
Pemerintah juga perlu untuk memperluas atau memperbanyak bentuk stimulus untuk kalangan menengah.
Baca Juga:Tekuk Persija 1-0, Persib Juara Paruh Musim Super League 2025/2026Tanggal 20 Januari Hari Apa ?
Bahkan perlunya kelompok menengah memperoleh stimulus yang serupa dengan stimulus yang digelontorkan untuk kelompok masyarakat berpengasilan rendah.
