REALITAKITA-Isu skincare lokal vs LGBT mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Salah satu brand kecantikan lokal, B ERL Cosmetics, tengah viral setelah sang owner, Erlyanie, disebut menolak kerja sama endorsement yang dinilai tidak sejalan dengan nilai brand yang dibangunnya.
Cuplikan video dan tangkapan layar percakapan yang beredar luas di platform TikTok dan X (Twitter) memicu ribuan komentar. Dalam waktu singkat, tayangan mencapai ratusan ribu views dan memancing perdebatan publik: apakah brand berhak memilih nilai, atau justru harus netral demi pasar?
Di tengah arus komentar, narasi yang berkembang bukan lagi soal produk, melainkan posisi brand terhadap isu sosial yang sensitif. Beberapa warganet memuji sikap tegas sang owner sebagai bentuk konsistensi nilai. Sebagian lain mempertanyakan dampaknya terhadap citra brand di pasar yang lebih luas.
Baca Juga:Niat Puasa Ramadhan Beserta Tata Cara dan Bacaan LengkapGubernur Jabar Tegur Kepala UPTD PU, Instruksikan Jalan Provinsi Harus Bersih dan Tertib
Fenomena ini mengingatkan pada beberapa isu viral sebelumnya, di mana keputusan personal seorang owner berubah menjadi isu nasional karena kekuatan algoritma media sosial. Dalam konteks ini, isu LGBT bukan menjadi inti produk, melainkan pemicu diskusi publik tentang identitas, nilai, dan positioning brand lokal.
Dukungan Konsumen Justru MenguatMenariknya, di tengah perdebatan, respons pasar menunjukkan pola yang tak terduga. Sejumlah konsumen justru menyatakan dukungan terbuka dan menyebut keputusan tersebut sebagai alasan untuk tetap bahkan semakin memilih produk B ERL.
Beberapa unggahan memperlihatkan lonjakan pencarian dan pembelian produk tertentu, khususnya Very Berry Acne Spot Treatment, yang menjadi pintu masuk promo best seller brand ini.
Kalau brand sudah jelas nilai dan sikapnya, saya lebih percaya,” tulis salah satu komentar yang viral
Branding Nilai di Era Sensitivitas PublikPakar branding menilai fenomena ini sebagai contoh nyata bahwa brand di era digital tidak hanya menjual produk, tapi juga sikap. Ketika isu sensitif muncul, setiap respons atau bahkan keputusan internal bisa menjadi konsumsi publik.
Dalam kasus ini, B ERL Cosmetics tidak mengubah narasi menjadi konflik terbuka,melainkan tetap fokus pada kualitas produk, legalitas BPOM, sertifikasi halal, dan kampanye promo Ramadhan yang sudah berjalan.
