Kasihumas Polres Purwakarta, AKP Enjang Sukandi, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menyebut kejadian berawal dari keributan yang berujung pada aksi kekerasan.
“Diduga ada sekelompok orang membuat keributan di acara hajatan yang kemudian berujung pada pemukulan hingga korban tidak sadarkan diri,” kata Enjang kepada wartawan saat dikonfirmasi, Ahad (5/3/2026).
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), ia mengatakan, polisi menemukan benda berupa belahan bambu yang diduga digunakan untuk menganiaya korban, terutama pada bagian kepala.
Baca Juga:Camat Purwakarta Apresiasi Penghimpunan Zakat Fitrah Kelurahan/Desa20 Prajurit Naik Pangkat, Kodim 0605/Subang Tegaskan Loyalitas dan Pengabdian
Korban, sambungnya, sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Hingga pukul 20.35 WIB, jenazah korban masih berada di RSUD Bayu Asih Purwakarta.
Terhadap korban dilakukan penanganan lebih lanjut, termasuk proses visum guna memastikan penyebab pasti kematian. Polisi juga bergerak cepat dengan mengamankan sejumlah terduga pelaku.
Saat ini, kata Enjang, terduga pelaku dan saksi-saksi masih menjalani pemeriksaan intensif oleh Satreskrim Polres Purwakarta untuk mengungkap secara jelas kronologi dan motif kejadian.
“Pelaku sudah diamankan, dan kami masih melakukan pendalaman,” kata Enjang.
Sementara itu, adik korban, Asep Wahyu, menceritakan detik-detik mencekam yang berujung tewasnya kakaknya itu.
“Awalnya cuma minta uang, sekali dikasih, mereka minta lagi sampai Rp500 ribu,” ujar Asep.
Menurutnya, sekelompok pria yang diduga berjumlah sekitar 10 orang datang ke lokasi hajatan dan meminta uang kepada pihak keluarga.
“Pertama dikasih, terus minta lagi. Katanya Rp500 ribu. Kejadiannya terus begitu (pemukulan),” ucap Asep menambahkan.
Baca Juga:Dinas Kesehatan Bandung Barat Sebut Kasus Campak Bisa Menyerang Balita hingga DewasaKadisdik Jabar Minta Kepala Sekolah Terus Berinovasi, Juga Edukasi Pedagang Jual Makanan Sehat
Ia mengaku tidak mengenal para pelaku karena dirinya tinggal di Karawang, sementara sang kakak menetap di Purwakarta.
Akan tetapi, dari informasi yang ia terima, jumlah pelaku cukup banyak dan sempat membuat situasi tak terkendali.
“Ke kakak saya ada tiga orang, ke saya sekitar delapan orang. Tapi kabarnya, totalnya sekitar 10 orang,” katanya.
