Menjahit Asa dari Benang, 26 Tahun Perjalanan Perajin Tas di Sukamelang Kasomalang Subang

Menjahit Asa dari Benang, 26 Tahun Perjalanan Perajin Tas di Sukamelang Kasomalang Subang
Di sebuah sudut tenang Desa Sukamelang Kecamatan Kasomalang, aroma benang dan kain seolah menyatu dengan denyut kehidupan seorang perajin tas yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya pada kerajinan tangan.
0 Komentar

Namun di balik kualitas yang terjaga, ada tantangan besar yang terus menghantui. Salah satunya adalah keterbatasan modal. Tak jarang, ia harus menolak pesanan dalam jumlah besar karena tidak mampu memenuhi kebutuhan bahan baku dan produksi dalam waktu singkat.

“Sering ada pesanan banyak, tapi terpaksa saya tolak. Bukan tidak mau menerima, tapi kemampuan dan modal kami terbatas,”

Keputusan untuk menolak pesanan tentu bukan hal mudah. Di satu sisi, peluang untuk meningkatkan penghasilan terbuka lebar. Namun di sisi lain, ia harus realistis dengan kondisi yang ada agar tidak mengecewakan pelanggan.

Baca Juga:Camat Purwakarta Apresiasi Penghimpunan Zakat Fitrah Kelurahan/Desa20 Prajurit Naik Pangkat, Kodim 0605/Subang Tegaskan Loyalitas dan Pengabdian

Meski demikian, ia tidak pernah kehilangan semangat. Baginya, menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kuantitas. Prinsip itulah yang membuatnya tetap bertahan hingga saat ini.

Dalam kesehariannya, ia dan sang istri membagi peran dengan sederhana namun penuh kekompakan. Ia fokus pada proses produksi utama, sementara istrinya membantu dalam tahap penyelesaian dan pemasaran. Kebersamaan mereka menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan usaha.

Di tengah gempuran produk pabrikan dan barang impor yang lebih murah, ia tetap percaya bahwa produk lokal memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Apalagi jika dibuat dengan ketulusan dan kualitas yang terjaga.

Desa Sukamelang sendiri sebenarnya memiliki potensi besar dalam pengembangan kerajinan. Namun, tanpa dukungan yang memadai, para pengrajin seperti dirinya harus berjuang sendiri untuk bertahan. Ia berharap suatu saat ada perhatian lebih dari pemerintah maupun pihak terkait, terutama dalam hal permodalan dan pemasaran.

“Kalau ada bantuan modal atau pelatihan, mungkin kami bisa berkembang lebih jauh. Tidak hanya berdua, tapi bisa membuka lapangan kerja juga untuk warga sekitar,” harapnya.

Selain modal, ia juga menghadapi keterbatasan tempat produksi. Ruang kerja yang sempit membuat proses produksi tidak bisa dilakukan secara maksimal. Ia menyadari, jika fasilitas lebih memadai, peluang untuk berkembang sebenarnya terbuka lebar.

Menariknya, hasil karyanya juga pernah masuk ke pasar yang lebih luas melalui penampung di Bandung, yang kemudian mendistribusikannya ke luar, termasuk untuk kebutuhan ekspor.

0 Komentar