Menjahit Asa dari Benang, 26 Tahun Perjalanan Perajin Tas di Sukamelang Kasomalang Subang

Menjahit Asa dari Benang, 26 Tahun Perjalanan Perajin Tas di Sukamelang Kasomalang Subang
Di sebuah sudut tenang Desa Sukamelang Kecamatan Kasomalang, aroma benang dan kain seolah menyatu dengan denyut kehidupan seorang perajin tas yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya pada kerajinan tangan.
0 Komentar

REALITA KITA- Di sebuah sudut tenang Desa Sukamelang Kecamatan Kasomalang, aroma benang dan kain seolah menyatu dengan denyut kehidupan seorang perajin tas yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya pada kerajinan tangan.

Kampung Sukamelang RT 05/RW 02,desa Sukamelang di sanalah Rofi’i menghabiskan sebagian besar hidupnya merajut benang menjadi harapan, dan kain menjadi cerita.

Selama 26 tahun, ia bertahan dalam sunyi, merajut asa dari helai demi helai benang, menjadikannya tas yang tak hanya bernilai guna, tetapi juga sarat cerita.

Baca Juga:Camat Purwakarta Apresiasi Penghimpunan Zakat Fitrah Kelurahan/Desa20 Prajurit Naik Pangkat, Kodim 0605/Subang Tegaskan Loyalitas dan Pengabdian

Perjalanan itu dimulai pada tahun 2000, saat ia masih seorang bujangan dengan semangat belajar yang tinggi. Ketertarikannya pada dunia kerajinan tas bukan datang tiba-tiba. Ia terinspirasi dari sang kakak yang lebih dulu menekuni profesi serupa. Dari situlah, benih kecintaan terhadap dunia kerajinan tumbuh dan perlahan menjadi jalan hidup yang ia pilih hingga hari ini.

Di awal perjalanannya, ia hanya bermodalkan kemauan dan ketekunan. Tanpa pendidikan formal khusus di bidang kerajinan, ia belajar secara otodidak—mengamati, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Setiap jahitan yang ia buat menjadi pelajaran berharga, hingga akhirnya ia mampu menghasilkan tas dengan kualitas yang tak kalah dari produk pabrikan.

Kini, setelah lebih dari seperempat abad berlalu, ia masih setia menekuni profesinya. Namun, ada yang berubah. Jika dulu ia dikelilingi banyak rekan kerja, kini ia hanya ditemani sang istri dalam menjalankan usaha kecilnya. Di rumah sederhana mereka, suara mesin jahit menjadi saksi bisu perjuangan sepasang suami istri yang terus bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

Meski dikerjakan secara sederhana, tas-tas hasil buatannya memiliki kualitas yang patut diacungi jempol. Setiap produk dibuat dengan ketelitian tinggi, mulai dari pemilihan bahan hingga proses finishing. Tak heran jika hasil karyanya diminati oleh berbagai kalangan.

Harga tas yang ia tawarkan pun cukup beragam, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung pada model dan tingkat kesulitan pembuatan. Dengan harga tersebut, konsumen sudah bisa mendapatkan produk yang kuat, rapi, dan tahan lama.

0 Komentar