REALITAKITA – Ketegangan politik di Washington meningkat setelah Presiden Donald Trump menyampaikan alasan berbeda terkait keputusan Amerika Serikat bergabung dalam serangan Israel terhadap Iran.
Dilansir dari Reuters, pada Selasa (3/3), Trump mengatakan ia memerintahkan pasukan AS untuk ikut serta karena meyakini Iran akan menyerang lebih dulu. Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan versi yang berbeda mengenai awal mula konflik.
Sehari sebelumnya, Rubio menjelaskan kepada wartawan bahwa Washington mengetahui rencana Israel untuk menyerang Iran. Ia menyebut serangan itu diperkirakan akan memicu balasan dari Teheran terhadap pasukan Amerika di kawasan.
Baca Juga:Demi Keselamatan, Dedi Mulyadi Siapkan Hotline bagi Warga Jawa Barat di Timur TengahRespons Netizen Menggema Dua Dapur MBG di Subang Dihentikan Sementara, Netizen Soroti Pengawasan dan Kepemilik
Menurut Rubio, keputusan untuk bertindak lebih dulu diambil demi menghindari korban yang lebih besar di pihak AS. Ia menekankan bahwa presiden tidak ingin Amerika menjadi pihak yang diserang terlebih dahulu.
Namun, Trump dalam pernyataan terbarunya menegaskan bahwa ia percaya Iran sendiri akan melancarkan serangan lebih dulu, terlepas dari rencana Israel. Ia juga membantah anggapan bahwa Israel mendorong Amerika masuk ke dalam konflik.
“Saya mungkin telah memaksa tangan mereka (Israel),” ujar Trump di Ruang Oval saat menerima Kanselir Jerman Friedrich Merz.
“Kami sedang bernegosiasi dengan orang-orang ini, dan menurut saya mereka lah yang menyerang lebih dulu. Jika kami tidak melakukannya, mereka akan menyerang lebih dulu. Saya yakin soal itu,” kata Trump.
Iran sendiri menegaskan bahwa serangan Amerika tidak diprovokasi dan menolak tudingan bahwa mereka tengah bersiap melakukan agresi.
Kontroversi semakin tajam setelah Gedung Putih menjelaskan rangkaian peristiwa sebelum serangan dimulai. Dua pejabat senior pemerintahan menggelar konferensi pers melalui sambungan telepon untuk memaparkan kronologi pembicaraan di Jenewa.
Pertemuan tersebut melibatkan utusan AS, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan pejabat Iran, dimediasi Oman. Dalam pembicaraan itu, pihak AS mendesak Iran menghentikan pengayaan uranium.
Baca Juga:Kemenag Subang Terus Koordinasi Perkembangan di Timur Tengah, Penyelenggaraan Haji Masih Sesuai RencanaKapolres Subang Wajibkan Rawatib,Tekankan Humanis dan Disiplin
Namun, menurut pejabat AS, Iran justru mengajukan proposal yang memungkinkan pengayaan uranium pada tingkat lebih tinggi di Reaktor Riset Teheran.
Washington menilai langkah itu sebagai upaya mengulur waktu sambil tetap mempertahankan kapasitas menuju pembuatan senjata nuklir.
