REALITA KITA– Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah operasi militer besar yang diperintahkan Presiden Donald Trump memasuki hari kedua. Militer Amerika melaporkan korban jiwa pertama dari pihaknya sejak dimulainya serangan.
Dilansir dari Reuters, Komando militer United States Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa tiga prajurit Amerika tewas dan lima lainnya mengalami luka serius dalam operasi melawan Iran. Sejumlah personel tambahan dilaporkan mengalami luka ringan akibat serpihan ledakan dan gegar otak.
Menurut dua pejabat AS yang berbicara kepada Reuters, para prajurit tersebut tewas di sebuah pangkalan militer di Kuwait, meski lokasi pasti insiden belum diungkap secara resmi. Trump menyebut kematian ini sebagai korban pertama sejak ia kembali menjabat dan memperingatkan bahwa kemungkinan korban tambahan masih ada.
Baca Juga:24 Pelajar di Cimahi Alami Keracunan Pasca Konsumsi MBG, Pemkot Buka Posko Penanganan DaruratDisiplin Rendah, 500
Dalam pernyataan video, ia menyampaikan duka cita sekaligus menegaskan bahwa Amerika akan membalas kematian tentaranya dan melanjutkan operasi militer terhadap pihak yang ia sebut sebagai ancaman teroris.
“Amerika akan membalas kematian mereka dan memberikan pembalasan paling keras kepada teroris yang telah memerangi peradaban,” katanya.
Sementara itu, sejak dimulainya operasi, militer AS mengklaim telah menyerang lebih dari 1.000 target di Iran. Serangan ini termasuk penggunaan pesawat pengebom siluman B-2 yang menjatuhkan bom berat ke fasilitas rudal bawah tanah yang diperkuat.
Trump juga menyatakan bahwa sembilan kapal perang Iran telah dihancurkan dan operasi untuk melumpuhkan armada lainnya masih berlangsung. Ia menambahkan bahwa puluhan pemimpin Iran telah tewas dalam serangan tersebut, meski klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Konflik ini semakin kompleks setelah kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang telah memimpin negara itu sejak 1989. Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran akan ketidakstabilan politik di Iran serta potensi dampak geopolitik yang lebih luas.
Selain itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengumumkan pembentukan dewan kepemimpinan sementara yang terdiri dari dirinya, kepala lembaga peradilan, serta seorang anggota Dewan Garda. Dewan ini untuk sementara mengambil alih tugas pemimpin tertinggi.
Trump telah menyerukan kepada rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka. Namun, di hari Minggu (1/3) waktu setempat, Trump mengindikasikan adanya peluang dialog. Dalam wawancara dengan majalah The Atlantic, ia menyebut kepemimpinan baru Iran ingin membuka komunikasi dan dirinya telah menyetujui pembicaraan tersebut.
