REALITAKITA-Momentum Ramadan dimanfaatkan SMP Negeri 6 Subang untuk memperkuat pembinaan karakter siswa sekaligus mencegah kenakalan remaja seperti perang sarung dan tawuran malam hari.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ucu, S.S., menegaskan Ramadan harus menjadi sarana pembinaan akhlak dan penguatan nilai keimanan. Menurutnya, sekolah tidak hanya menyesuaikan jam belajar, tetapi juga merancang kegiatan yang membentuk disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab siswa.
“Selama Ramadan, sejumlah kegiatan religius digelar terjadwal, seperti tadarus Al-Qur’an, pembacaan selawat, dan salat duha bersama. Program tersebut diharapkan menanamkan kebiasaan positif serta meningkatkan kedekatan spiritual siswa,” katanya kepada Pasundan Ekspres.
Baca Juga:eFootball PES 2026 PPSSPP Android Offline Full Update, Grafik HD & Transfer Terbaru!Pemkab Purwakarta dan PT Ewindo Kerjasama Perkuat Ekosistem Pertanian Terintegrasi
Sekolah juga menjalankan program literasi metode Ba Bi Bu (Baca, Bicarakan, Buat Ulasan). Siswa membaca buku cerita Islami, mendiskusikan isi bacaan, lalu menuliskan ulasan sebagai refleksi. Program ini bertujuan menumbuhkan budaya literasi sekaligus memperkuat nilai spiritual.
Ucu mengingatkan, potensi perilaku menyimpang justru kerap muncul di luar jam sekolah, terutama menjelang sahur atau selepas tarawih. Perang sarung yang dianggap permainan bisa berubah berbahaya karena diikat dan diisi benda keras. Konvoi sepeda motor remaja juga dinilai meresahkan warga.
“Untuk mengantisipasi hal tersebut, sekolah menggandeng orang tua melalui komunikasi aktif di grup WhatsApp dan media sosial. Orang tua diimbau memperketat pengawasan, membatasi penggunaan gawai, serta mencegah anak terlibat ajakan provokatif,” ungkapnya.
Selain itu, penggunaan sepeda motor oleh siswa selama Ramadan diminta dibatasi dan diarahkan pada kegiatan positif di rumah. Masa libur diharapkan dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah, belajar mandiri, dan mempererat hubungan keluarga.
“Ramadan seharusnya menjadi momen memperkuat ibadah dan kebersamaan, bukan diwarnai aksi kekerasan. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegas Ucu.
Sekolah menilai sinergi antara guru, orang tua, tokoh masyarakat, dan pengurus masjid menjadi kunci membimbing generasi muda agar tetap berada di jalur positif selama Ramadan
