REALITA KITA – Harga telur ayam di Pasar Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, mengalami kenaikan dalam dua hari terakhir. Kenaikan harga ini diakui para pedagang dipicu oleh mahalnya harga pakan ternak serta meningkatnya permintaan menjelang perayaan Imlek dan bulan puasa.
Keluhan ini dirasakan oleh para pedagang eceran dan penjual nasi warteg yang bergantung pada telur sebagai bahan utama dagangan. Fauzan, pedagang eceran telur, mengaku kenaikan harga cukup memberatkan usahanya.
“Modal jadi lebih besar, sementara pembeli banyak yang mengurangi jumlah belanja tetapi mau tidak mau tetap beli karena telur kebutuhan sehari-hari,” kata Fauzan.
Baca Juga:Warga Subang Kaget BPJS Nonaktif Saat Berobat: Saya Pekerja Serabutan, Mana Bisa Disebut SejahteraGempa Subang: BMKG Mencatat Kekuatan Guncangan Magnitudo 2,8, Terasa Sampai Ciater
Hal serupa disampaikan Siti Aminah, pedagang warteg di Pamanukan. Ia menyebut kenaikan harga telur berdampak langsung pada biaya operasional usahanya.
“Telur itu bahan utama. Kalau harganya naik terus, jelas berpengaruh ke pengeluaran tetapi kami tetap beli supaya usaha tetap jalan,” ucap Siti Aminah.
Para pedagang memprediksi harga telur ayam masih berpotensi mengalami kenaikan, terutama menjelang perayaan Imlek dan memasuki bulan Ramadan, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Salah seorang pedagang telur ayam di Pasar Pamanukan, Asep Saepudin, mengatakan meski harga terus naik, dirinya tetap bertahan berjualan walaupun keuntungan yang diperoleh semakin tipis.
“Harga telur sebelumnya masih Rp 27.000 per kilogram. Sekarang sudah naik menjadi Rp 33.000 bahkan sampai Rp 34.000 per kilogram. Kami tetap jualan, meski untungnya tidak seperti biasanya,” ujar Asep saat ditemui di lapaknya, Minggu (8/2/2026).
Menurut Asep, kenaikan harga tersebut berasal dari tingkat peternak akibat mahalnya pakan ayam yang belum juga turun. Kondisi ini membuat pedagang di pasar terpaksa menyesuaikan harga jual.
