Banjir di Subang Belum Surut, Ratusan Warga Masih Mengungsi

Banjir di subang masih belum surut
Banjir rutin tahunan yang terus terulang di wilayah Pantura Subang.
0 Komentar

REALITAKITA-Banjir yang merendam ribuan rumah warga di Kabupaten Subang belum kunjung surut.

Luapan sungai masih terjadi seiring tingginya intensitas hujan yang diperparah kiriman air dari wilayah hulu.

Pantauan di Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan, ketinggian air di permukiman warga masih di atas 1 meter.

Baca Juga:Nilai Rupiah Naik, Keuangan Global Yen MenguatHarga Emas Antam Hari: Turun, Buruan Beli Sekarang

Meski air terus mengalir, genangan tak kunjung berkurang. Sejumlah warga tampak kembali ke rumah saat siang hari hanya untuk mengecek kondisi bangunan

Darma, salah satu warga, mengaku belum bisa menempati rumahnya karena air masih tinggi. Ia hanya datang untuk menyelamatkan barang berharga yang tersisa meski sebagian besar sudah rusak terendam.

“Ngecek saja ke rumah, takut ada kerusakan. Ngamanin barang-barang juga ke atas walaupun banyak yang terendam,” ujar Darma di lokasi, Selasa (27/01/2026)

Sudah dua malam Darma mengungsi di masjid bersama ratusan warga lainnya.

“Ini mau ke pengungsian lagi, semalam juga tidur di masjid,” katanya.

Hal senada diungkapkan Dayim. Ia menyisir isi rumahnya karena khawatir ada barang yang hanyut.

Sebelumnya, ia sempat mengamankan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi sebelum air semakin naik.

Baca Juga:Cuaca Hari Ini, Potensi Hujan Lebat di Jawa Barat dan 7 Wilayah Lain 27 Januari 2026Monsun Asia Menguat, BMKG Sebut Cuaca Ekstrem Belum Usai

“Ngecek saja takut ada barang yang jatuh. Karena diikat semua ke atas dan dibungkus plastik,” singkat Dayim.

Petugas BPBD Subang, Didin Tajudin, menyebutkan meski air masih tinggi, mulai ada penurunan sekitar 5 cm dari debit sebelumnya. “Air masih tinggi, paling turun hanya 5 cm. Kami terus patroli ke dalam untuk memantau kondisi,” ucap Didin.

Sementara itu, di kolong jembatan Jalur Pantura Subang, ratusan orang bertahan dengan alas tikar seadanya. Mereka beristirahat dan berkumpul di sana. Suasana seringkali riuh saat warga berebut bantuan makanan dari donatur yang datang ke lokasi pengungsian

Devina, salah satu pengungsi yang membawa balita, mulai mengeluhkan minimnya kebutuhan dasar. “Kami butuh popok, susu, dan selimut untuk anak-anak,” imbuhnya.

Selain kekurangan logistik, warga yang bertahan di pengungsian mulai terserang penyakit gatal-gatal. Hal ini dipicu oleh kondisi lingkungan yang kotor dan krisis air bersih yang mulai melanda sejak banjir terjadi

0 Komentar