REALITA KITA – Menjaga kesehatan di era “In this economy” memang penuh tantangan, terutama bagi Gen Z yang sedang berada di fase transisi menuju dewasa.
Berbagai tekanan mulai dari faktor lingkungan hingga gejolak emosional dan hubungan pribadi seringkali datang bersamaan.
Padahal, menurut WHO, kesehatan sejati bukan sekadar tidak sakit secara fisik, tapi juga kemampuan mental untuk berkembang dan bermanfaat bagi lingkungan.
Baca Juga:Persib Resmi Rekrut Mantan Bek PSG Layvin Kurzawa, Dikenalkan Usai Laga PSBS Biak11 Jenazah Korban Longsor Cisarua Bandung Barat Teridentifikasi, Ini Identitasnya
Berikut adalah tiga pilar utama yang bisa kamu terapkan untuk tetap glow up secara fisik dan mental yang dikutip dari situs Kemenkes:
Aktif Bergerak (Exercise)
Olahraga bukan cuma soal tren running atau pilates yang estetik di media sosial. Secara medis, aktif bergerak adalah investasi jangka panjang.
- Manfaat Fisik: CDC menyebutkan bahwa rutin berolahraga menurunkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, gangguan jantung, hingga obesitas.
- Manfaat Mental: Fisik yang aktif memicu suasana hati yang lebih baik, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan fokus serta daya ingat.
- Target: Usahakan bergerak minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang, ditambah latihan beban dua kali seminggu.
2. Prioritaskan Tidur
Seringkali demi tugas atau kopi senja, waktu tidur dikorbankan. Padahal, tidur adalah fase krusial bagi tubuh untuk recovery.
- Kebutuhan: Remaja butuh 8-10 jam, sementara dewasa (18+) butuh minimal 7 jam per malam.
- Tips Kualitas Tidur: * Matikan gadget sebelum tidur.
- Jadwalkan jam tidur yang konsisten setiap malam.
- Batasi asupan kafein, terutama saat hari sudah sore.
3. Perhatikan Nutrisi dan Diet
Godaan makanan instan dan minuman manis (SSB) sangat tinggi, namun dampaknya cukup mengkhawatirkan.
- Risiko Gula: Konsumsi minuman manis berlebih meningkatkan risiko diabetes hingga 26% dan obesitas hingga 55%.
- Nutrisi untuk Bahagia: Penelitian menunjukkan bahwa pola makan sehat (buah, sayur, dan ikan) dapat menekan risiko depresi sebesar 33% dibandingkan sering mengonsumsi makanan olahan atau ultra-processed food.
- Menyeimbangkan ketiga aspek di atas mungkin terasa berat di awal, tapi sangat sepadan untuk masa depanmu.
