Ketua Viking Subang: Rivalitas Persib-Persija Harus Berhenti Menjadi Permusuhan Berdarah

viking subang
Viking Subang Ketika mendukung tim kebanggaan mereka Persib Bandung di Stadion Si Jalak Harupat beberapa Waktu lalu
0 Komentar

REALITAKITA – Menjelang laga panas yang mempertemukan Persib Bandung dan Persija Jakarta, atmosfer rivalitas kembali memuncak. Namun, di tengah gegap gempita yang sering dijuluki sebagai El Clasico Indonesia atau “Lebarannya Sepak Bola Indonesia”, Ketua Viking Subang, Akim, memberikan refleksi mendalam yang menyentuh sisi gelap dari perseteruan kedua kelompok suporter ini.

Bagi Akim, laga ini bukan sekadar pertandingan 90 menit. Ia menyoroti bahwa bagi sebagian orang, hari pertandingan justru menjadi “hari kelam” karena menyisakan duka mendalam akibat jatuhnya korban jiwa.

Akim secara lugas menyebut bahwa apa yang terjadi antara oknum suporter kedua tim sudah melampaui batas rivalitas sehat dan lebih tepat disebut sebagai permusuhan. Ia mengingatkan kembali memori kelam tewasnya Rangga di GBK hingga Haringga Sirla di GBLA, serta korban-korban lain yang tidak terberitakan.

Baca Juga:Perkuat Iman dan Akhlak Peserta Didik, MAN 1 Subang Gelar Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAWUang Rakyat Subang Rp100 Miliar Tak Terpakai di 2025, Ko Bisa?

“Siapakah yang bertanggung jawab dengan itu semua? Mungkin kita yang berada di bagiannya,” ujar Akim.

Ia mengajak semua pihak untuk bercermin, apakah makian rasis, aksi kekerasan, atau bahkan sikap diam saat melihat kejahatan terjadi, telah memupuk lingkaran permusuhan ini.

“Hal ini menjadi memori kolektif bagaimana kita di lingkaran permusuhan ini harus bersikap saat kita saling berpapasan, tanpa tahu kenapa kita harus melakukan hal tersebut (kekerasan),” tambahnya.

Lebih lanjut, Akim mengkritik fenomena suporter yang kerap menggunakan simbol-simbol perlawanan atau seruan anti-fasis, namun di saat yang sama masih terjebak dalam perilaku kebencian terhadap sesama suporter.

“Berhentilah pura-pura peduli saat hanya kejadian itu telah terjadi, lalu kembali menebar kebencian. Berhenti memakai simbol seruan anti-fasis atau perlawanan itu saat kau juga berada di bagian dari permusuhan ini,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Akim mengingatkan bahwa suporter seharusnya bersatu menghadapi masalah yang lebih besar, seperti kebijakan sosial yang tidak berpihak pada rakyat hingga isu mafia bola. Baginya, solidaritas antar-suporter adalah aset berharga yang tidak boleh dihancurkan oleh kebencian buta.(fsh)

0 Komentar